Wednesday, June 3, 2015

PSIKOLOGI PRIA DAN WANITA (MATERI KPP)



PENGANTAR
“Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar-Nya diciptakan-Nya dia: pria dan wanita diciptakan-Nya mereka”.
Perkawinan adalah suatu persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita berdasarkan atas ikatan cinta kasih yang total demi penyempurnaan dan perkembangan pribadi masing-masing dan kelangsungan umat manusia. Dengan perkawinan terbentuklah “keluarga baru”. Dengan berlandaskan pada arti dan tujuan perkawinan tersebut, perlu diperhatikan bahwa masing-masing pribadi yang bersekutu itu adalah pribadi yang berlainan jenis: pria dan wanita. Karena itu, dalam bagian ini akan dibicarakan secara mendalam dan mendetail perbedaan antara pria dan wanita, baik perbedaan fisik maupun psikologis dengan harapan bahwa adanya pemahaman yang semakin baik tentang keberadaan pasangan masing-masing akan mempermudah membangun relasi dan komunikasi di antara mereka.
PERBEDAAN PRIA DAN WANITA
Tuhan menciptakan manusia sebagai pria dan wanita dengan perbedaan masing-masing yang melekat pada diri mereka.Perbedaan ini desebut dengan istilah seksualitas. Seksualitas menunjuk pada keseluruhan ciri-ciri yang membedakan manusia sebagai pria dan wanita: jasmaninya, kejiwaannya, sifat-sifatnya, cara berpikirnya, bentuk badannya, suara dan gayanya, perasaannya, bakat-bakatnya, dan sebagainya, sedangkan istilah seks menunjuk pada jenis kelamin, alat kelamin, dan hubungan kelamin yang secara biologis dimaksudkan untuk mendapatkan keturunan. Jadi, seks hanya merupakan sebagian dari keseluruhan manusia.
Menurut ajaran agama, perbedaan jenis kelamin ini berasal dari Sang Pencipta dan dalam Kitab Suci disebut sungguh amat baik.Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang berkelamin, maksudnya supaya pria dan wanita saling melengkapi dan saling membahagiakan (segi psikologis) dan supaya umat manusia berlangsung terus di dunia ini (segi biologis).Seksualitas mendapat saluran dan perwujudannya yang paling mantap dan sempurna dalam perkawinan dan hidup berkeluarga serta mencapai puncaknya dalam kesuburan jasmani-rohani yang menghasilkan hidup baru, yaitu anak.
Panggilan hidup kaum pria terarah menjadi seorang ayah/bapak, sedangkan wanita terpanggil menjadi seorang ibu.Karena itulah, sejak semula Allah memberikan “perlengkapan” yang berbeda pada kodrat pria dan wanita, baik perlengkapan jasmaniah/biologis maupun rohaniah/psikologis.Perbedaan itu adalah anugerah Tuhan dengan maksud supaya pria dan wanita saling melengkapi dalam hidup berkeluarga.
a.       Perbedaan Fisiologis/Biologis/Anatomis
Pria
Wanita
Tubuh pria menonjolkan garis-garis lurus, tegak, kuat, dan penuh otot-otot, kekar, yang melambangkan keperkasaan dan kekuatan.
Tubuh wanita lebih menonjolkan garis-garis melingkar, bulat, lambing cinta, kelembutan, kasih, dan perasaan aman.
Dada lapang, bahunya lebar untuk bekerja dan melindungi.
Bahu relative kecil dan melengkung, buah dada berkembang dan mengembung.
Pinggul agak kecil dibandingkan dengan bahu.
Pinggang menyempit dan pinggulnya menonjol bulat.
Kaki kokoh, kuat, dan tegak lurus.
Karena tulang pinggulnya lebih besar, paha besar dan kaki meruncing ke bawah.
Tangan penuh otot, kekar, kuat dan keras.
Tangan lembut dan lemas.
Suara besar. Ada jakun pada leher.
Suara kecil, leher rata.
Alat kelamin terletak di luar rongga tubuh.
Alat kelamin tersembunyi di dalam rongga tubuh.
Ada rambut pada muka/kumis, dada, lengan, dan kulit kaki.
Tidak ada rambut di dada dan kulit.



b.      Perbedaan Psikologis
Pria
Wanita
Pandangan luas dan keluar, gemar menjelajah dan menyelidiki alam sekitarnya.
Pandangan lebih terarahkan ke dalam, gemar tinggal di rumah, mengatur dan merawat.
Suka merusak, membongkar dan membangun dunia menjadi rumah tinggal.
Suka menyayangi, merawat dan memelihara rumah, menciptakan suasana di rumah menjadi tempat tinggal yang membuat orang betah.
Mampu bekerja di luar, mencari nafkah, menguasai dunia.
Perhatian untuk pribadi sesame manusia.
Suka mencoba, mencari, dan melihat-lihat.
Butuh diperhatikan, senang dilihat dan dicari.
Aktif, mengambil inisiatif, suka kritik dan protes.
Reaksi, menanggapi, lebih mudah menerima dan menyayangi.
Intelek dan rasio lebih utama.
Emosi dan perasaan lebih utama.
Lebih melihat garis besar.
Perhatian sampai detail-detail.

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN
Tahap perkembangan adalah tahap perkembangan psikologis yang dimiliki oleh seseorang dari masa bayi sampai dengan ketika orang menjadi tua. Ada enam tahap perkembangan, yaitu:
·         Masa bayi dengan usia 0-2 tahun
·         Masa prasekolah dengan usia 2-5 tahun
·         Masa sekolah dengan usia 6-12 tahun
·         Masa pubertas dengan usia 11/12-14/15 tahun
·         Masa remaja dengan usia 13-18 tahun
·         Masa dewasa dengan usia 18-60 tahun
·         Masa usia lanjut dengan usia 60 tahun ke atas
Setiap masa atau tahap perkembangan memiliki tugas-tugas yang harus dilakukan.Untuk sukses melangkah ke tahap yang lebih tinggi, maka tugas-tugas dalam tahap yang dialami mesti dilakukan secara baik. Tugas-tugas perkembangan menurut Havighurst yang harus dijalani orang sepanjang rentang kehidupannya adalah:
1.       Masa Bayi dan Masa Anak Parasekolah
o   Belajar memakan makanan padat
o   Belajar berjalan
o   Belajar berbicara
o   Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
o   Belajar tentang perbedaan seks
o   Belajar mempersiapkan diri untuk membaca
o   Belajar membedakan benar dan salah
o   Mulai mengembangkan hati nurani

2.       Masa Anak Sekolah
o   Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
o   Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya
o   Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita yang tepat
o   Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca dan menulis serta menghitung
o   Mengembangkan pengertian-pengertian dasar dalam kehidupan sehari-hari
o   Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata nilai

3.       Masa Remaja
o   Mencapai hubungan yang baru dan lebih matang dengan teman sebaya, baik pria maupun wanita.
o   Mencapai peran social sebagai pria ataupun wanita
o   Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
o   Mengembangkan perilaku social yang bertanggung jawab
o   Mempersiapkan karir ke masa depan
o   Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
o   Mempeoleh perangkat nilai dan system etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideology

4.       Masa Dewasa
o   Mulai bekerja, mengembangkan karir
o   Memilih pasangan hidup
o   Belajar hidup dengan pasangannya dan mulai membina keluarga
o   Mengasuh anak dan bertanggungjawab dalam pendidikan anak
o   Mengola rumah tangga
o   Bertanggungjawab secara social dan sebagai warga Negara
o   Mencari kelompok social yang menyenangkan
o   Menyesuaikan diri dengan usia yang lebih tua
o   Mencapai dan mempertahankan prestasi memuaskan dalam pekerjaan
o   Menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiologis

5.       Masa Tua
o   Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
o   Menyesuaikan diri dengan mas pension dan berkurangnya penghasilan keluarga
o   Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
o   Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
o   Menyesuaikan diri dengan peran social secara luwes
MENUJU KEDEWASAAN PRIBADI
a.       Pada Laki-Laki
Pada umunya, seorang laki-laki memiliki dorongan seksual yang kuat.Seks dialami sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menarik.Gelombang kehidupan seksual laki-laki relative tetap dalam arti dari waktu ke waktu selama satu bulan kurang lebih tetap.Gelombang pasang nafsu seksual pada laki-laki umumnya dipengaruhi dua hal, yaitu kondisi badan secara keseluruhan serta kelelahan dan kekosongan hidup.Dalam kondisi yang baik, umumnya nafsu seksual juga tinggi.Dalam keadaan lelah dan mengalami kekosongan hidup, biasanya nafsu seksual juga berkurang.Nafsu seksual adalah salah satu dari nafsu-nafus yang terdapat dalam diri manusia.Umumnya dorongan kegiatan dari berbagai nafsu atau keinginan terdapat dalam keadaan seimbang. Akan tetapi, bila nafsu/keinginan yang lain berkurang, dengan sendirinya nafsu seksual akan menonjol.
Anak laki-laki dalam proses menjadi dewasa harus belajar menempatkan dorongan seksualnya secara wajar dalam keseluruhan hidupnya dan mengintegrasikannya dengan daya cinta dan tanggungjawab. Pria harus menyadari bahwa alat seksual hanyalah sebagian dari sekian banyak alat tubuh; bahwa alat tersebut terletak dalam keseimbangan dinamis dengan keseluruhan tubuh sehingga tidak perlu terlalu diperhatikan atau diistimewakan; bahwa pengalaman orgasme sebenarnya sekedar perasaan puas akibat berkerutnya otot-otot perut, pinggul, dan kaki.
Terhadap lawan jenis perlu ditanamkan sikap hormat dan pengertian.Pria perlu diberitahu tentang gelombang pasang surut yang terjadi pada kehidupan wanita dan perlu “tenggang rasa” serta memberi perlindungan.Kepuasan seksual yang sebenarnya hanya mungkin didapat dengan pengertian, persiapan dan penghayatan yang penuh dalam kehidupan sebagai suami-isteri, di mana penyerahan pribadi dapat terjadi secara total, dan seks disucikan menjadi ekspresi dan sarana cinta.
b.      Pada Wanita
Kehidupan seksual wanita sangat nyata bergelombang sepanjang perjalanan proses menstruasi. Menjelang menstruasi dan pada waktu menstruasi, wanita mengalami gelombang surut dari keseluruhan gairah kehidupannya.Merasa tidak enak badan, pikiran kacau, konsentrasi sukar, terasa serba salah, dan sebagainya.Pada pertengahan (sekitar ovulasi), gelombang kehidupan wanita biasanya meningkat, juga keinginan/nafsu seksualnya.Adanya gelombang-gelombang inilah yang merupakan salah satu pendorong, mengapa wanita cenderung ingin hidup tenang, damai, aman, terlindung, dan tenteram, serta memerlukan pengertian, kelembutan, dan perlindungan dari lawan jenis.
Kepuasan seksual pada wanita berbeda dengan laki-laki.Kepuasan wanita lebih terkait erat dengan kehidupan perasaannya. Oleh karena itu, apabila diukur dengan ukuran yang sama dengan laki-laki, wanita lebih sulit mengalami kepuasan seksual. Pengertian bahwa penderitaan, pelayanan, dan pengorbanannya diterima dan dimengerti oleh pasangannya merupakan sumber kepuasan bagi wanita.
MENGIKATKAN DIRI DALAM SEBUAH PERKAWINAN
Sudah menjadi sebuah impian bagi setiap pasangan yang baru menikah untuk memiliki sebuah keluarga yang bahagia.Akan tetapi, untuk mencapai perkawinan yang ideal seperti itu bukanlah impian yang mudah.Oleh karena itu, perlu adanya usaha setiap hari untuk saling menjaga keharmonisan hubungan perkawinan.Janganlah memiliki impian-impian yang terlalu muluk karena bila tidak terwujud hanya kekecewaanlah yang dialami. Beberapa contoh harapan yang kurang relaistis di awal-awal perkawinan di antaranya:
·         Segala-galanya akan kita kerjakan bersama
·         Kita akan mempunyai pendapat dan perasaan yang sama mengenai bermacam-macam hal
·         Dia akan selalu memperhatikan dan mengutamakan diriku, demikian pula aku selalu memperhatikan dan mengutamakan dia
·         Setiap hari kita pasti bercinta dan bermesra-mesraan
·         Sifat-sifat dan kebiasaan yang jelek akan hilang lenyap karena cinta kita berdua
·         Kita tidak akan bertengkar. Segala persoalan akan kita selesaikan dengan musyawarah dan mufakat
·         Perkawinan kita akan jauh berbeda dengan apa yang telah kita lihat dalam lingkungan dan keluarga kita
·         Aku akan “ajar” dia menjadi orang seperti yang kuharapkan
·         Tidak aka nada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita berdua

a.       Harapan Psikologis
Diperlukan keterlibatan satu sama lain sehingga diharapkan dapat membawa kebahagiaan bagi kedua belah pihak. Keterlibatan tersebut tampak dalam sikap hidup dan tingkah laku konkret sehari-hari, misalnya: kesetiaan yang mutlak dan total, kerelaan mengubah diri, sabar, bertenggang rasa, tidak memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri, memiliki kerelaan membuka diri, saling memperhatikan satu sama lain, serta rela berkurban bagi pasangannya. Dengan sikap yang demikain ini, harapan psikologis untuk kedua belah pihak dapat terpenuhi.
b.      Harapan Biologis
Manusia sebagai makhluk biologis mempunyai kebutuhan pangan, sandang, dan seks.Perubahan teknologi dan kebudayaan juga membawa perubahan dalam memenuhi kebutuhan tersebut, dan ini merupakan tantangan bagi kita untuk memenuhinya. Khususnya mengenai kebutuhan seks perlu diingat bahwa fungsi seks dalam hidup manusia bukan hanya alat pencari kenikmatan  atau sebagai pelampiasan hawa nafsu, tetapi berfungsi sebagai sarana agar manusia lebih sempurna dapat memberikan dan mengungkapkan diri secara khas dalam perkawinan dalam bentuk persetubuhan, di mana suami-isteri sungguh-sungguh bersatu padu jiwa-raganya. Hanya di dalam perkawinan, persetubuhan mempunyai arti yang luhur dan suci.
c.       Harapan Sosial
Hal ini menyangkut peranan/status: yang dulunya berstatus sebagai anak dari orangtuanya, sekarang berubah statusnya menjadi suami/isteri. Yang dulunya bujangan dan masih bebas bergerak, sekarang masuk dalam kelompok bapak-bapak atau ibu-ibu.Suami sebagai kepala keluarga bertanggungjawab keluar.Mereka juga sudah menjadi bapak atau ibu yang mempunyai keharusan untuk mengusahakan secara bersama-sama pendidikan anak.
Untuk memenuhi harapan-harapan tersebut suami-isteri  perlu berusaha dan berjuang. Dalam memenuhi harapan tersebut, suami-isteri dapat mengalami kepuasan bila berhasil dan kekecewaan bila mereka gagal. Kegagalan yang dialami akan menimbulkan gangguan bagi keluarga tersebut. Situasi seperti itu disikapi secara dewasa.Apabila gangguan tersebut tidak dapat diatasi, maka relasi suami-isteri terancam rusak sehingga berimbas kepada anak dan keluarga besar.
SEBAB-SEBAB KEGAGALAN PERKAWINAN
Kegagalan bukan harapan apalagi cita-cita dalam membangun keluarga, tetapi ada baiknya jika orang tahu mengenai apa saja yang dapat menjadi sumber dan sebab kegagalan perkawinan dan dapat mengambil hikmat dari kegagalan tersebut bagi hidup perkawinanya. Ada beberapa sebab kegagalan perkawinan:
1.       Sebab-Sebab Sebelum Menikah
a.       Motivasi yang tidak matang dan kurang dewasa
o   Hanya demi status/harta atau kepuasan seksual
o   Hanya karena kasihan, berhutang budi
o   Hanya demi menuruti kehendak orangtua
o   Hanya karena kecelakaan untuk mengesahkan anak
o   Hanya sebagai pelarian, daripada sendirian lebih baik menikah
o   Cinta buta, dan sebagainya
b.      Latar belakang calon pengantin
o   Status keluarga terlalu jauh berbeda: kaya-miskin, ningrat-rakyat jelata
o   Umur terlalu jauh berbeda
o   Taraf kedewasaan dan pendidikan terlalu jauh berbeda
o   Sifat dan watak yang memang tidak dapat cocok
o   Belum cukup kenal satu sama lain, pacaran terlalu singkat
o   Main topeng: waktu pacaran hanya segi-segi baik saja yang dimunculkan atau diperhatikan.

2.       Sebab-Sebab Sesudah Menikah
o   Anak: tidak dikaruniai anak, perbedaan konsep dalam pendidikan anak, perhatian terhadap kesehatan anak
o   Ekonomi: terjerat hutang, berwatak boros, ketidakmampuan dalam mengatur ekonomi rumah tangga
o   Godaan: kedekatan dengan orang ketiga, termakan isu/gossip, dan sebagainya
o   Orangtua: orangtua yang campur tangan terhadap urusan rumah tangga, mendapat titipan adik ipar
o   Komunikasi suami-isteri macet, tidak lagi mau saling bicara
o   Kebosanan: kemesraan tidak dipupuk, tidak ada tanda-tanda cinta
o   Kekecewaan dalam hidup seksual; kurang mengerti sifat dan kebutuhan pria/wanita, gangguan psikis (cemburu, curiga, konflik bathin), gangguan biologis (impoten, frigid, penyakit, kelainan)

3.       Faktor dari Luar
o   Lingkungan fisik yang tidak nyaman, perumahan yang sempit
o   Konflik dengan tetangga
o   Keluarga yang tinggal serumah (orangtua, mertua, adik/adik ipar)
o   Isteri yang bekerja sehingga bergaul dengan bermacam-macam orang yang memungkinkan terjadinya perselingkuhan
o   Faktor ekonomi keluarga (kurang penghasilan, banyak hutang, cara hidup boros, biaya pengobatan yang tinggi)
Kegagalan dalam hidup perkawianan/hidup berumah tangga tidak akan terjadi bila suami-isteri secara konsekuen mau suntuk saling memperkuat ikatan cinta mereka, meningkatkan kemesraan, berusaha untuk saling mengerti, dan menerima. Sikap ini harus diusahakan dan diperjuangkan setiap hari karena sikap seperti ini bukanlah sesuatu yang dimiliki, tetapi sesuatu yang harus dilatih dan dipertahankan. Kemesraan, saling pengertian dan saling menerima antara suami-isteri akan semakin kuta dan kokoh justeru dalam usaha bersama mengatasi masalah-masalah dan gangguan-gangguan kecil sehari-hari.
BEBERAPA SARAN
Perkawinan hendaknya dipersiapkan secara matang dan mantap, baik material maupun spiritual/psikologis. Mengenal pribadi pasangan secara mendalam: sifat dan peringai, latar belakang pendidikan dan keluarga, bakat-bakat maupun kekurangan-kekurangannya. Semuanya ini akan sangat menunjang kestabilan perkembangan cinta kasih antara suami-isteri.
Berusaha untuk menerima partner seperti apa adanya, jangan mengharapkan yang berlebuhan, dan jangan mencoba memaksa pasangan menjadi seperti yang diinginkan. Suami-isteri adalah pribadi-pribadi yang khas dan unik dan dengan perkawinan, persatuan dua pribadi tersebut akan dapat saling mendewasakan.
Penghayatan iman dalam keluarga, membaca Kitab Suci dan merenungkan isinya, berdoa bersama, sharing pengalaman rohani, semuanya ini akan memperkaya perkawinan. Komunikasi antara suami-isteri akan terjalin apabila: bersikap jujur dan wajar terhadap pihak lain. Jangan menganggap diri lebih benar, lebih super, atau lebih rendah dari pihak lain.
Rasio/pikiran memang harus mengatur tingkah laku, tetapi perasaan juga harus “diakui” ada dan perlu diterima.Rasio dan perasaan harus digunakan bersama-sama dalam berkomunikasi. Kesediaan untuk membuka diri dan mengatakan dengan jujur apa yang menjadi pikiran dan perasaan adalah langkah yang bagus untuk semakin mengenal satu dengan yang lain dan demikian semakin memupuk kemesraan di antara pasangan. Di samping itu, diperlukan juga kerelaan untuk saling mendengarkan, tanpa menyela, membantah, atau membahas apa yang sudah dikatakan pihak lain. Sikap dasar adalah “mau mengerti” dan “mau menerima”, itu yang penting.
Carilah titik-titik kesamaan dan terimalah adanya perbedaan, baik pendapat maupun sifat.Binalah rasa solidaritas atau kekompakan serta kesetiakawanan dalam keluarga, baik internal maupun eksternal. Binalah manajemen keluarga dengan baik sehingga keluarga menjadi tertib dab teratur dengan menggunakan potensi-potensi yang dimiliki seluruh anggota keluarga. Binalah sikap mau berkorban.Hanya dengan pengorbanan, kemajuan dan perkembangan dapat dicapai.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
Pria dan wanita mungkin mempunyai alas an yang berbeda untuk menikah; kalaupun alasan-alasannya sama, tetapi urutan yang lebih penting mungkin berbeda. Daftarkanlah hal-hal yang menurut anda merupaka alas an utama:
1.       Wanita menikah karena……………………….
2.       Dalam perkawinan, wanita mengharapkan…………….
3.       Hal yang paling ditakuti oleh wanita dalam hidup perkawinan adalah……………………..
4.       Sifat apa yang paling diharapkan oleh isteri dalam diri suami……………………..
5.       Pria menikah karena………………..
6.       Dalam perkawianan, pria mengharapkan…………….
7.       Hal yang paling dikhawatirkan oleh pria dalam hidup perkawianan adalah……………….
8.       Sifat yang paling dihargai  dan diharapkan dalam diri isteri………………………..

KOMUNIKASI KELUARGA (MATERI KPP)



PENGANTAR
Memiliki keluarga yang indah dan bahagia adalah cita-cita setiap orang yang menikah.Akan tetapi, cita-cita tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dibangun.Hal ini terbukti dengan contoh kenkret bahwa di Indonesia pun, kurang lebih 30% perkawinan berakhir dengan perceraian.Sudah menjadi seharusnya kebahagiaan perkawinan diperjuangkan setiap hari sepanjang hidup. Kunci hidup perkawinan tidak lain adalah saling menjaga kesetiaan; saling memberikan perhatian; serta tidak egois terhadap pasangannya; dank arena itu, diperlukan komunikasi yang baik satu sama lain. Komunikasi menjadi sarana yang ampuh untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hidup perkawinan.
PROSES PENYESUAIAN
Pada awal-awal perkawinan, semua berjalan begitu mudah.Suami/siteri selalu berusaha membahagiakan pasangannya, sampai-sampai hal-hal yang kurang menyenangkan dan sifat-sifat yang kurang disukai yang muncul dari pasangannya, tidak dihiraukan. Perasaan selalu diliputi rasa bahagia karena bisa menjalani hari-hari bersama pasangannya, sang belahan jiwa. Dalam suasana seperti ini, proses penyesuaian dapat berjalan dengan baik.Memang, proses penyesuaian ini memerlukan waktu yang lama sehingga relasi suami/isteri yang terjalin dengan komunikasi yang hangat diliputi rasa cinta membuat perjalanan hidup perkawinan serasa bebas tanpa hambatan.
Proses penyesuaian pun berjalan terus, semakin lama semakin terasa perbedaannya, kerikil-kerikil hidup berumah tangga mulai terasa membuat jalan tidak lagi begitu mudah. Selang beberapa waktu, sifat-sifat dan watak sebenarnya mulai tampak dan suasana mulai berubah.Jangan-jangan setelah satu bulan “madunya” habis dan mulai diganti “padu” (pertengkaran atau perkelahian).
Memang, tantangan pertama yang dihadapi pada masa awal perkawinan adalah proses penyesuaian satu sama lain. Ada sejuta hal yang tampaknya kecil, tetapi perlu disesuaikan, mulai dari selera makan, cara berpakaian, kebisaaan-kebisaaan sewaktu masih bujang, juga perbedaan-perbedaan karena latar belakang pendidikan, keluarga, dan lingkungan. Hal-hal seperti itu mudah menimbulkan rasa jengkel, frustrasi, dan kecewa bila tidak ada kemauan dari kedua belah pihak untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain. Masalah akan bertambah berat bila perasaan, keinginan, dan maksud hati tidak diungkapkan dengan jelas, tetapi didiamkan dan dipendam karena menganggap bahwa pasangannya “sudah tahu” apa yang dirasakan, dipikirkan, dan diharapkannya.
Tahap penyesuaian kedua adalah dimulai dengan kedatangan sang buah hati. Begitu mereka dianugerahi anak, perhatian kepada pasangannya mulai terbagi. Sang ibu sibuk merawat anak dan mengurus rumah tangga, sedangkan sang ayah bertambah tanggung jawanya sehingga harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Secara tidak disadari, relasi mereka mulai mengalami perubahan, merenggang, tidak sebaik hari-hari sebelumnya.Perhatian, tenaga, dan waktu mereka tersita oleh kesibukan mereka masing-masing, mengurus anak dan tugas sehari-hari. Kebisaaan bicara dai hati ke hati semakin jarang dilakukan.
Dalam situasi seperti itu, salah paham mudah terjadi yang sering meningkat menjadi pertengkeran.Kemudian, mulai muncul kekecewaan dan perasaan negative yang akhirnya membuat relasi yang baik yang sudah terjalin menjadi kurang baik.Ditambah lagi dengan adanya tantangan, gangguan, dan godaan dari luar, seperti dari keluarga, lingkunagn, dan masalah ekonomi sehingga menimbulkan persoalan yang menimbulkan cekcok.Kekecewaan-kekecewaan itu bisaanya dipendam saja dalam hati.Akan tetapi, pada suatu saat bisa meledak. Kehangatan relasi mulai diganti dengan ketegangan dan banyak diam. Pertengkaran mulai sering terjadi, sifat egois masing-masing mulai mendominasi dan apabila mereka tidak menemukan jalan untuk menyelamatkannya, mereka akan jatuh pada “neraka perkawinan” dan keadaan akan semakin memprihatinkan.


MEMBANGUN RELASI DENGAN KOMUNIKASI
Melihat situasi demikian, mungkin orang akan bertanya, “Apa yang harus kami lakukan supaya keluarga kami dapat bertahan dan lestari?”
Kunci jawaban adalah KOM – UNI – KASI.Dari penelitian yang dilakukan oleh sejumlah pakar dan juga dari pengalaman hidup kiranya menjadi jelas bahwa komunikasi menjadi factor penentu kelanggengan relasi suami-isteri.Bila suami-siteri dari semula berusaha untuk tetap berkomunikasi, maka segala persoalan akanbisa dihadapi (syukur kalau dapat diatasi) bersama.Bahkan, relasi perkawinan yang sudah mengalami kegoncangan akibat kekecewaan, masih dapat dipulihkan dan diselamatkan.
a.       Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses timbal balik antara dua orang, yang seorang memberi informasi/isyarat dan yang lain menerima informasi tersebut sehingga terjadi kesatuan pemahaman. Syarat mutlak komunikasi adalah yang satu mau bicara, membuka hati dan secara jujur berani mengungkapkan keinginan-keinginan da nisi hatinya, sedang yang lain mau mendengarkan, mau menerima, dan mau mengerti. Oleh karena itu, gerakan tutup mulut – di mana kedua belah pihak tidak lagi mau saling berbicara – adalah lonceng kematian bagi komunikasi.Dalam perkawinan, dua pribadi dengan segala kekhususannya bergabung menjadi satu dan saling melengkapi dengan saling memahami, menghormati keinginan, alam pikiran, dan cita-cita pasangannya. Dengan perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing pihak, beserta dengan segala “kekayaannya”, keduanya justeru saling memperkaya satu sama lain. Proses pemerkayaan ini akan terjadi bila kedua belah pihak mau salinh berkomunikasi.
b.      Prasyarat Komunikasi
Supaya komunikasi bisa berlangsung, yang pertama-tama perlu diusahakan adalah suasana yang mendukung, antara lain:
1.       Relasi Suami-Isteri Nomor Satu
Relasi suami-isteri harus dinomorsatukan di atas segala-galanya. Ini berarti bahwa suami-siteri harus mau saling memperhatikan, mementingkan pasangan: menyediakan waktu bagi pasangan, mau mendengarkan, mau menerima, dan mengutamakan pasangan di atas segala yang lain. Karena RELASI lebih penting daripada PRESTASI.
Cinta itu lebih dari sekedar perasaan. Perasaan selalu berubah-ubah (hari ini senang dan besok mungkin sedih); sedangkan CINTA ADALAH SUATU KEPUTUSAN untuk tetap setia, juga kalau kehangatan perasaan mulai pudar (“dalam suka dan duka, dalam untung dan malang”); keputusan untuk tetap saling menerima seperti apa adanya, saling membantu untuk berkembang dan menemukan kepribadian yang sejati tanpa mau memaksa yang lain untuk menjadi seperti yang diinginkan.
2.       Menciptakan Suasana yang Nyaman
Salah satu tugas penting isteri adalah menciptakan suasana yang enak di rumah sehingga suami (dan anak-anak) merasa kerasan tinggal di rumah. Di pihak lain, rahasia isteri yang baik terletak di tangan suaminya, yaitu apakah suami dapat memberikan rasa aman, perlindungan, perhatian, kemesraan, kata-kata pujian, serta penghargaan kepada isterinya.
Dalam berkomunikasi satu sama lain, khususnya mengenai hal-hal yang agak peka, hendaknya dibisaakan tidak menuduh, menuding atau mempersalahkan yang lain. Misalnya, bukan “Kenapa kau tidak mau tahu betapa aku merindukanmu segera berada di rumah….”, tetapi “Aku merasa cemas kalau-kalau terjadi hal yang tidak baik padamu, maka aku mengharapkan engkau cepat pulang…”, Bukan dengan tuduhan “Kenapa kau mesti pulang malam”, tetapi “Aku merasa kesepian kalau malam hari sendirian di rumah” atau “Aku merindukan kau berada di dekatku…”
Dalam keluarga Katolik, sangat penting diadakan doa malam bersama yang isi pokoknya adalah berterima kasih kepada Tuhan atas segala berkat-Nya selama hari ini, mohon ampun atas segala kekurangan dan kesalahan kita: mohon berkat atas hidup kita selanjutnya. Doa malam mesti disertai juga saling memaafkan. Inilah waktunya untuk “menyelesaikan” segala ketegangan dalam relasi yang telah timbul selama hari itu.
Masalah-masalah yang menyangkut kepentingan keluarga mesti dirundingkan bersama, sampai tercapai mufakat, atau paling tidak sampai terjadi saling pengertian, misalnya tentang ekonomi/keuangan, hubungan dengan orangtua dan family, pekerjaan, pendidikan anak, kegiatan dalam masyarakat, penghayatan agama, seks, hobi, dan sebagainya. HARUS ADA WAKTU UNTUK ITU.
Hendaknya kedua belah pihak minimal sehari sekali saling mengucapkan sepatah kata manis atau kata pujian, sedangkan kritikan, ejekan, tuduhan, celaan, sindiran, dan sebagainya hendaknya dihindari. Kata “terima kasih” dan “maafkan ya” hendaknya menjadi perkataan sehari-hari di antara pasangan suami-siteri. Apabila ada masalah atau timbul perasaan negative hendaknya jangan dipendam saja atau didiamkan, lebih baik dibicarakan secara terbuka!
3.       Kerelaan untuk Mendengarkan
Kunci dansyarat mutlak komunikasi adalah kerelaan dan kemampuan untuk MENDENGARKAN. Bila yang satu bicara yang lain diharapkan menjadi “pendengar yang baik”. Mendengarkan berarti tidak hanya membuka telinga untuk APA yang dikatakan (isi pembicaraan atau pesannya), tetapi lebih membuka hati untuk SIAPA yang sedang berbicara. Dengan kata lain, dalam MENDENGARKAN ini kita memberikan atensi: perhatian, waktu, dan diri kita sepenuhnya pada lawan bicara kita. Pentingnya mendengarkan dengan mudah dapat kita merasa tidak didengarkan oleh orang lain. Maka, jadilah seorang pendengar yang baik.
4.       Memilih Waktu dan Tempat
Untuk membangun komunikasi yang baik hendaknya kita pandai-pandai memperhatikan situasi serta memilih WAKTU dan kesempatan, juga TEMPAT yang sesuai.Misalnya, kalau suami baru pulang dari tempat kerja/lading – dalam keadaan lelah – janganlah langsung dihujani dengan bermacam-macam persoalan, keluhan, omelan, dan tugas-tugas. Dalam keadaan demikian, mungkin reaksinya tidak akan baik. Berilah dia waktu sejenak baru kemudian diajak bicara.Bila ada masalah, jangan meragukan “Apakah dia masih cinta padaku?” Hal itu tidak perlu diragukan lagi karena Anda berdua sudah menjanjikan hal itu di depan altar. Munculnya masalah atau persoalan adalah hal yang bisaa dalam kehidupan bersama, yang penting bahwa diusahakan untuk mencari solusinya. Jagalah supaya orang lain jangan sampai tahu kalau Anda sedang berselisih. Jangan pernah membicarakan kejelekan pasangan Anda kepada orang luar.
c.       Bahasa Komunikasi
Dibedakan tiga bahasa komunikasi dalam relasi pasangan suami-isteri. Ini masih dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu komunikasi verbal/dengan kata-kata (bagian 1 dan 2) dan komunikasi nonverbal/tidak dengan kata-kata (bagian 3 dan 4).
1.       Dari Kepala ke Kepala/Diskusi
Jenis komunikasi ini adalah pembicaraan yang sifatnya basa basi, urusan sehari-hari (soal anak, pekerjaan, atau arisan), memberi informasi, merencanakan sesuatu atau menyelesaikan suatu masalah.Bila ada suatu masalah yang dihadapi maka perlu dirembuk atau didiskusikan.Intinya bahwa suami-isteri saling tukar pengalaman, pikiran atau pendapat.Tukar pendapat (isi kepala) disebut DISKUSI.Hasilnya bisa berupa suatu kompromi, mengalah, atau toleransi.
Dalam diskusi, suami-isteri membicarakan suatu masalah dan saling mempertahankan pendapat, berdasarkan kebenaran yang diyakini, sampai akhirnya dapat disimpulkan suatu pendapat yang disepakati bersama. Dalam diskusi bisaa terjadi bahwa ada pihak yang “menang” da nada pihak yang merasa ”kalah”. Yang “menang” merasa senang, tetapi yang merasa “kalah” sangat mungkin mempunyai perasaan dongkol, marah, kecewa, ataupun merasa tidak dimengerti.Perasaan ini sering kali diteruskan dengan sikap mendiamkan dan menghindar sehingga relasi suami-isteri menjadi jauh.
Bila dalam diskusi juga dilontarkan tuduhan (mempersalahkan yang lain), hal ini tentu akan menimbulkan reaksi “bela diri” yang berlanjut ke pertengkaran. Maka jangan menuduh, menggurui, menyindir, atau saling mempersalahkan.Lebih baik mengajukan pertanyaan dan membantu pasangan mengutarakan pikirannya/isi hatinya. Perbedaan pendapat antara suami-isteri adalah wajar! Agar diskusi tidak menjadi pertengkaran, caranya ialah dengan bertanya dan mau mendengarkan.Menjadi pendengar yang baik belum tentu berarti menyetujui semua hal yang didengarkan, tetapi lebih berarti mau memperhatikan.
2.       Dari Hati ke Hati
Bentuk komunikasi “dari hati ke hati” dengan mengutarakan isi hati dan perasaan-perasaan disebut DIALOG. Dalam dialog, suami-isteri saling tukar perasaan da nisi hati. Atas dasar saling percaya dan saling menerima, suami-isteri berani saling mengungkapkan isi hati dan perasaan.Dengan demikian, mereka dapat saling mengerti dengan hati masing-masing.
Dalam dialog, suami-isteri saling mengungkapkan isi hati atau perasaan. Perasaan seseorang hanya dapat diterima saja; jadi tidak perlu membela diri, apalagi menyerang atau mengusut dengan pertanyaan: “Mengapa kau punya perasaan seperti itu?” atau “Aku tidak setuju dengan perasaanmu itu”. Kalau belum jelas apakah yang diutarakan itu “perasaan” atau “pendapat”, lebih baik bertanya dahulu supaya kedua belah pihak berbicara pada “gelombang” yang sama daripada salah omong.
Banyak suami-isteri masih sulit untuk mengungkapkan perasaannya, lebih-lebih perasaan negative (sakit hati, dongkol, kecewa, dan sebagainya) atau perasaan yang kurang menyenangkan (takut, gagal, sedih, dan sebagainya).Namun, perasaan-perasaan itu merupakan bagian dari hidup. Kalau dipendam hanya akan menjadi beban, dan pada suatu saat bisa “meledak” dalam bentuk kemarahan, kata yang pedas, dan sindiran yang menyakitkan. Pedoman yang penting dalam hal ini adalah: perasaan itu tidak “baik” atau “jelek”, tetapi perasaan itu mengungkapkan sesuatu mengenai jati diri kita yang sebenarnya.
Dalam dialog, suami-isteri hanya mengungkapkan perasaan-perasaan hati. Tidak ada sikap menuduh atau mempersalahkan.Tidak ada yang “menang” dan “kalah”.Oleh karena itu, hasil dialog adalah lebih saling mendekatkan dan menghangatkan relasi.Pembicaraan dari hati ke hati sering dibantu dengan tulisan/surat.
3.       Bahasa Badan
Bahasa badan adalah setiap ungkapan cinta, perhatian, dan kasih saying satu sama lain, tetapi tidak dengan kata-kata dan tidak dimaksudkan untuk merangsang seksual. Bahasa badan ini sangat penting untuk menciptakan suasana akrab dan mesra.Bahasa badan mempunyai peranan tersendiri (lepas dari hubungan seks).Bahasa badan dapat memberikan rasa aman, terlindung, diperhatikan, dan menimbulkan rasa akrab.
Pada waktu masih pacaran bisaanya orang pandai mencari kesempatan untuk saling menyentuh.Belaian tangan atau rambut dengan lembut dirasakan sebagai sesuatu yang amat berarti untuk mengungkapkan rasa cinta dan mendekatkan hati. Tangan kita dapat bicara sama banyaknya dengan mulut. Jari jemari dapat mendengarkan sama tajamnya seperti telinga. Mengapa cara pengungkapan seperti ini dihentikan atau dianggap sudah tidak perlu lagi kalau sudah menjadi suami-isteri? Tetapi bila suami-isteri ingin mengadakan hubungan seks, mesti didahului dengan bahasa badan dalam berbagai variasinya. Cara-cara itu antara lain: pandangan mata, pijat-pijatan, senyuman, pegang-pegangan, rangkulan, sentuhan/belaian tangan, ciuman, duduk berdampingan, dekapan, dan lain-lain. Dianjurkan agar suami-isteri saling memberi ciuman sebagai tanda kasih saying minimal beberapa kali sehari! Tanda-tanda adanya hubungan akrab antara ayah dan ibu seperti itu boleh dilihat anak.
4.       Hubungan Seks
Apa itu Hubungan Seks?
Hubungan seks adalah bahasa komunikasi yang paling intim dan paling menyeluruh dalam relasi suami-isteri, sebagai perwujudan nyata dari “bersatu padu jiwa raga”. Seks bukan pertama-tama suatu “kegiatan yang dilakukan” untuk mencari kepuasan biologis atau hanya “melaksanakan kewajiban” sebagai suami dan isteri, melainkan suatu bahasa komunikasi yang dimaksudkan untuk lebih mempersatukan suami-isteri dalam kasih mesra. Seks bukan pertama-tama suatu aktivitas yang bersifat biologis melulu, yang dilakukan dengan alat kelamin melainkan aktivitas yang melibatkan unsur psikologis/kejiwaan, emosional/perasaan, dan spiritual/kehendak/kemauan. Dengan kata lain, aktivitas seksual adalah aktivitas yang melibatkan seluruh pribadi manusia dan tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan relasi suami-isteri dan suasana keluarga.
Bila relasi suami-isteri berjalan dengan baik dan suasana keluarga dalam keadaan harmonis, maka hubungan seks juga akan menjadi aktivitas yang membahagiakan. Karena itulah dapat dikatakan bahwa hubungan seks hanyalah “meragakan” relasi yang ada. Bila hati dekat, hubungan seks juga akan memuaskan; sebaliknya bila hati tidak merasa dekat, segala teknik seks yang paling canggih pun tidak akan membantu untuk mendekatkannya.Bukan seks yang membuat perkawinan menjadi sukses, sebaliknya relasi yang baik membuat seks menjadi suatu pengalaman yang indah dan membahagiakan.
Supaya hubungan seks bisa berjalan dengan memuaskan bagi kedua belah pihak, perlu diperhatikan perbedaan dalam pembawaan, sifat, kebutuhan, harapan, keinginan, dan irama pria-wanita.
Pria lebih terarah pada seks dalam arti sempit (biologis) dan mempunyai pola dasar “gerak cepat” , serdangkan wanita lebih mengutamakan kasih saying, kehangatan, kemesraan, rasa aman (segi psikologis dan emosional) dan mempunyai pola dasar “lambat” dalam arti memerlukan waktu lebih lama untuk terangsang secara seksual dan mencapai kepuasannya. Bagi kaum laki-laki, seks adalah kegiatan sesaat; bagi wanita seks adalah kegiatan sehari. Jika perbedaan dasar ini kurang diperhatikan hubungan seks dapat menjadi sumber kekecewaan yang sangat mencekam dan akan mempengaruhi keseluruhan relasi suami-isteri. Karena itu, baiklah bila kedua belah pihak mau saling “belajar”  dan terbuka terhadap masalah ini.
Pelaksanaan Hubungan Seks
Pelaksanaan hubungan seks memerlukan persiapan yang cukup lama agar isteri dapat menyambut suami dengan sebaik-baiknya, demikian sebaliknya.Jika tidak demikian, isteri tidak dapat memberikan diri, apabila ada persoalan atau isteri lagi banyak pikiran, dan sebagainya.Sebaiknya suami-isteri mempunyai semacam “kode” untuk saling mengajak.Jika situasi dan kondisi tidak memungkinkan, ajakan tersebut juga bisa dijawab dengan suatu “penolakan halus”.
·         Tiga Langkah Berhubungan Seks
Pelaksanaan hubungan seks suami-isteri hendaknya melalui tiga langkah berikut ini:
a.       Persiapan (Foreplay)
Persiapan (foreplay) untuk menciptakan kesatuan jiwa dan hati juga mempersiapkan alat-alat tubuh untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Persiapan itu dapat dilaksanakan dengan: rayuan, pijatan, belaian, ciuman, dan sentuhan pada seluruh tubuh, termasuk daerah erogen ( yang peka terhadap rangsangan). Rangsangan pada wanita harus secara kontinyu dan ritmis supaya efektif dan akhirnya dipusatkan pada klitoris.Makin lama permainan cinta ini diteruskan makin baik. Maka suami hendaknya bersabar! Jangan memaksa/mendobrak.
b.      Berhubungan Seks (Sanggama)
Berapa kali?Sikap atau tekniknya?Perlu variasi?Kalau pria selesai lebih dahulu, sedang isteri belum?Kalau isteri sedang menstruasi/hamil/sakit/KB?Bagaimana kalau salah satu menolak? Masalah praktis seperti: impotensi, sakit, dan sebagainya.
c.       Sesudah Hubungan Selesai (After Play)
Kebersamaan diteruskan sampai dua-duanya mengalami kepuasan dengan belaian yang lembut disertai bisikan kata-kata pujian dan terima kasih. Evaluasi bersama = bahkan dialog, bisa saling menanyakan apakah masing-masing pihak mengalami kepuasan, bila tidak mengapa? Lain kali bisa diperbaiki lagi!
Tidak selalu berhasil/memuaskan, bersabarlah!
·         Beberapa Petunjuk
a). Perlu Privasi
Perlu privasi: kamar tidur tersendiri, di mana tidak dilihat anak/orang lain. Bila sudah ada anak, hendaknya selekas mungkin diberi tempat tidur dan kamar sendiri. Antara suami-isteri tidak perlu ada rasa malu: kedua belah pihak berani mengungkapkan keinginan secara jelas dan terus terang. Jangan menganggap bahwa pasangan “mengetahui” apa yang anda butuhkan/inginkan. Hubungan seks bukanlah hal yang tabu, justru karena itu perlu dibicarakan/didialogkan bersama-sama sehingga segala keinginan, kekecewaan, kejengkelan, dan harapan dapat terungkap.
b). Permainan Cinta
Apabila isteri sedang menstruasi, sedang dalam keadaan subur, hamil, atau baru melahirkan sehingga mereka tidak dapat melakukan hubungan seks secara normal, mereka boleh saja saling merangsang untuk saling memberikan kepuasan.Permainan cinta (mesra-mesraan, bercumbu-cumbu) mempunyai fungsi tersendiri yang dapat dilakukan setiap waktu di antara suami-isteri juga kalau isteri sedang menstruasi atau lagi tidak bergairah untuk bersanggama.
Haruslah disadari bahwa tidak setiap ungkapan kemesraan adalah ajakan untuk berhubungan seks; tidak setiap permainan cinta harus berakhir dengan hubungan sanggama.Prinsip “kalau tidak berhubungan seks, maka tidak usah melakukan permainan cinta” hendaknya dijauhkan dari kehidupan suami-isteri.Sejauh permainan cinta itu membantu mendekatkan hati dan membuat suami-isteri makin mesra dan bahagia sejauh itu pula layak untuk dilakukan.
c). Kontak Intim
Belajar memandang “kontak intim” (belaian mesra, tatapan, pelukan, pegangan tangan, ciuman di kening-pipi-dahi) antara suami-isteri sebagai cara untuk menyampaikan rasa kasih saying dan bahasa komunikasi. Seks tidak sama dengan sanggama. Seks dapat juga diartikan sebagai bersantai bersama dalam keakraban dan permainan, maka perlu disertai percakapan dan humor.Seks adalah pemberian Tuhan, dan tubuh kita pun suci, tempat kediaman Roh Kudus dan pernyataan kasi Allah. Sabda Tuhan, “Di mana ada dua orang brsatu atas nama Tuhan, di sana Tuhan sendiri hadir di tengah-tengah mereka” juga berlaku dalam relasi intim suami-isteri ketika mereka saling memberikan diri sepenuhnya dalam hubungan seks.
MENYELESAIKAN KONFLIK
Adanya perbedaan pendapat antara suami-isteri adalah hal yang wajar dan dapat terjadi kapan pun.Perbedaan pendapat itu hendaknya diselesaikan mlalui diskusi di mana kedua belah pihak dapat menyampaikan secara jujur segala keluhan, perasaan, dan mungkin juga kejengkelan yang dialaminya.Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa perbedaan pendapat sering berkembang menjadi konflik; diskusi berubah menjadi pertengkaran dan perang mulut.
Konflik sulit dihindari, yang penting adalah bagaiman mengatasinya dengan cara dan semangat Kristiani sehingga tidak membawa kehancuran dalam kehidupan suami-isteri. Bisaanya sumber konflik antara suami-isteri adalah hal-hal bisaa seperti: pendidikan anak, keuangan keluarga, aturan rumah tangga, atau mungkin juga karena campur tangan pihak ketiga (orangtua, mertua, orang luar). Kerap kali di belakang konflik ada suatu perasaan yang sangat mendalam, misalnya isteri marah-marah (kemarahan yang luar bisaa) hanya karena suami tanpa sengaja menumpahkan kopi di taplak meja.Mungkin alasan mendasar di balik kemarahan yang demikian besar adalah karena isteri merasa kurang diperhatikan oleh suami.
Nasihat orang bijak mengatakan: “Jangan lari, tetapi hadapilah persoalan yang anda alami dalam hisup”. Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan suami-isteri. Apa pun persoalan yang ada hendaknya dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya sampai tintas. Jangan pernah mendiamkan amasalah yang ada karena masalah itu akan kian membesar; apalagi karena suatu masalah relasi suami-isteri mencapai titik nol (diam seribu bahasa).
Konflik terbuka yang terjadi antara suami-isteri tidaklah selalu jelek. Suatu konflik dapat juga berfungsi positif, yakni untuk menjelaskan situasi, menyadarkan kedua belah pihak akan keadaan dan kebutuhan pasangannya serta menjadi sarana untuk mengungkapkan ganjalan-ganjalan, unek-unek yang mungkin sudah lama mengganggu relasi mereka. Hal penting yang perlu diperhatikan bila terjadi konflik adalah tidak membela diri dan mempersalahkan pihak lain, tetapi mau refleksi diri sambil bertanya dalam hati “apa salahku hingga menjadi demikian?”.Kedua belah pihak harus berani mencari sumber masalahnya sebelum bisa mengatasinya.


PEDOMAN MENYELESAIKAN KONFLIK
a.       Mendengarkan dengan Baik
Mendengarkan dengan baik, terutama mau menerima perasaan-perasaan yang diungkapkan, setelah itu baru diajak bicara baik-baik dan dirembuk pokok permasalahannya. Mencoba memandang persoalan dari sudut pandang pasangan kita: “Seandainya saya pada posisi dia, bagaimanakah pandangan dan perasaanku?” Kalau yang satu mau mengerti pandangan dan perasaan pihak lain, kerap kali separuh masalah sudah terselesaikan.
b.      Jangan Menanggapi Emosi
Emosi jangan ditanggapi dengan emosi, sebab kalau ditanggapi seperti itu kemungkinan akan keluar kata-kata kasar/kotor yang tidak pada tempatnya. Bila yang satu emosi, yang lain lebih baik diam atau pergi; setelah emosi mulai reda barulah pembicaraan dapat dilanjutkan kembali dengan tenang. Hindarilah kata-kata kasar dan kecaman/kritik yang tidak mengenai pokok persoalan dan hanya menyakitkan hati.
c.       Orang Lain Jangan Tahu
Usahakan sedapat mungkin jangan sampai orang lain tahu bahwa anda sedang berkonflik dengan pasangan anda. Maka, jangan pernah bertengkar di hadapan anak-anak ataupun di hadapan pembantu, tetapi bertengkarlah di kamar sendiri.Batasi diri pada pokok masalahnya. Jangan mengaitkan masalah lain yang tidak ada hubungannya, apalagi sampai melibatkan orang lain dalam kancah pertengkaran. Jangan pernah lupa bahwa orang yang sedang berkonfrontasi dengan anda adalah pasangan anda, belahan hati anda, kepada siapa anda telah berjanji akan mencintai dan menghormatinya sepanjang hidup anda. Bila konflik dapat diselesaikan hendaknya anda berdamai kembali dan berdoalah bersama serta saling memaafkan dan tidak mengungkit-ungkit kembali konflik atau permasalahan yang telah lewat.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
1.       Bagaimana perasaan/reaksi anda bila dipuji oleh pasangan anda?
2.       Bagaimana perasaan/reaksi anda bila dikritik, dicela, dikomentari, atau disindir oleh pasangan anda?
3.       Bila anda merasa tersinggung, sakit hati, apa yang anda harapkan dari pasangan anda? Bila pasangan anda merasa tersinggung dan sakit hati, apa yang anda harapkan darinya?
4.       Bagaimana perasaan anda jika pasangan anda mau mendengarkan anda dengan sungguh dan sepenuh hati? Bagaimana perasaan/reaksi anda jika pasangan anda ternyata tidak sungguh mendengarkan anda?
5.       Manakah hal-hal yang harus anda diusahakan menjadi pendengar yang baik?